Menautkan Intelektualitas dan Spiritualitas: Catatan atas Dialog Refli Harun dan Galgendu

REDAKSI ATAP KOTA.COM

- Redaksi

Minggu, 19 April 2026 - 14:00 WIB

40238 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dialog antara Refli Harun dan Sri Eko Sriyanto Galgendu

Dialog antara Refli Harun dan Sri Eko Sriyanto Galgendu

ATAPKOTA.COM – Dialog antara Refli Harun dan Sri Eko Sriyanto Galgendu membuka ruang pertemuan yang jarang terjadi: bertautnya intelektualitas dengan spiritualitas dalam satu percakapan yang reflektif. Ulasan Refli terhadap “Kitab MA HA IS MA YA” yang disampaikan dalam bentuk doa dan syair berbahasa Bhumi memperlihatkan upaya memahami dimensi spiritual melalui pendekatan rasional.

Pendekatan ini menjadi menarik karena menghadirkan kedekatan antara olah pikir dan olah batin. Keduanya tidak lagi diposisikan sebagai dua kutub yang saling menjauh, melainkan sebagai unsur yang saling melengkapi. Dalam konteks ini, intelektualitas tidak semestinya mengabaikan spiritualitas, sebab nilai-nilai spiritual justru menjadi penuntun etika, moral, dan akhlak manusia dalam menjalankan perannya sebagai khalifatullah di muka bumi.

Keterpisahan antara intelektual dan spiritual, yang sejatinya merupakan potensi ilahiah dalam diri manusia, telah melahirkan berbagai penyimpangan. Dunia yang tampak terang secara rasional justru bisa kehilangan arah ketika dikendalikan oleh nafsu—serakah, tamak, dan rakus yang berujung pada kerusakan, baik fisik maupun nonfisik. Dalam situasi seperti itu, hukum yang seharusnya berakar pada nilai-nilai moral kerap tereduksi menjadi sekadar komoditas.

Dalam konteks tersebut, langkah Refli Harun memasuki wilayah spiritual patut dicermati. Sebagai pengamat hukum tata negara dan figur publik berbasis intelektual, pendekatannya yang dialogis lebih banyak bertanya daripada menggurui—menunjukkan sikap terbuka terhadap nilai-nilai spiritual. Cara ini sekaligus menegaskan bahwa spiritualitas memiliki relevansi dalam membangun tata kehidupan, termasuk dalam ranah politik dan ketatanegaraan.

Melalui medium podcast, ruang dialog antara dimensi intelektual dan spiritual menjadi semakin terbuka. Percakapan semacam ini berpotensi menjadi sarana refleksi, bahkan terapi psikologis, terutama bagi para pemangku kebijakan. Dalam konteks yang lebih luas, kesadaran spiritual dapat membantu meluruskan arah pembangunan bangsa menuju kehidupan yang adil, sejahtera, dan bermakna baik secara lahir maupun batin.

Apresiasi Refli terhadap Sri Eko Sriyanto Galgendu, yang telah lama berkecimpung dalam gerakan spiritual, menandai adanya pergeseran penting. Spiritualitas tidak lagi dipinggirkan, melainkan mulai dipertimbangkan sebagai fondasi dalam membimbing kecerdasan intelektual. Hal ini menjadi relevan di tengah kecenderungan modern yang kerap mengedepankan rasionalitas, namun mengabaikan nilai-nilai etika dan kemanusiaan.

Dialog ini pada akhirnya dapat dibaca sebagai fenomena awal dari upaya menjembatani dua wilayah yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Ketika intelektualitas dan spiritualitas saling terhubung, manusia memiliki peluang lebih besar untuk menjaga keseimbangan hidup tidak hanya cerdas secara pikir, tetapi juga jernih secara batin.

Tulisan dikirim oleh : Jacob Ereste pada Minggu, 19 April 2025.

Editor : Tim Redaksi atapkota.com

Berita Terkait

Putin Sebut Indonesia Mitra Kunci Rusia di Asia Pasifik saat Bertemu Prabowo
Pidato di EEF ke-11 Vladivostok, Prabowo: Pembangunan Harus Diukur dari Kehidupan Rakyat
Wakil Bupati Asahan Pimpin Rapat P4GN, Persempit Ruang Gerak Peredaran Narkoba
Wapres Gibran Dukung Inovasi Mahasiswa UB, Rompi Anti-Tantrum Didorong Segera Dihilirisasi
Gunung Sinabung Masih Siaga, 374 Warga Bertahan di Pengungsian dan 202 Personel Disiagakan
Belacan Khas Asahan Ditargetkan Tembus Pasar Thailand, Pemkab Siapkan Dukungan untuk UMKM
Istilah Proyek Siluman Mencuat di Puskesmas BP Nauli, Pekerja Mengaku Tak Tahu Pemborong Pelaksana
Resmikan Jembatan Bailey di Tapteng, Bobby Nasution Siapkan Modal Usaha bagi 50 Warga

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 23:37 WIB

Putin Sebut Indonesia Mitra Kunci Rusia di Asia Pasifik saat Bertemu Prabowo

Kamis, 3 September 2026 - 23:32 WIB

Pidato di EEF ke-11 Vladivostok, Prabowo: Pembangunan Harus Diukur dari Kehidupan Rakyat

Kamis, 3 September 2026 - 22:35 WIB

Wakil Bupati Asahan Pimpin Rapat P4GN, Persempit Ruang Gerak Peredaran Narkoba

Kamis, 3 September 2026 - 21:29 WIB

Wapres Gibran Dukung Inovasi Mahasiswa UB, Rompi Anti-Tantrum Didorong Segera Dihilirisasi

Kamis, 3 September 2026 - 21:00 WIB

Gunung Sinabung Masih Siaga, 374 Warga Bertahan di Pengungsian dan 202 Personel Disiagakan

Kamis, 3 September 2026 - 20:09 WIB

Istilah Proyek Siluman Mencuat di Puskesmas BP Nauli, Pekerja Mengaku Tak Tahu Pemborong Pelaksana

Kamis, 3 September 2026 - 20:09 WIB

Resmikan Jembatan Bailey di Tapteng, Bobby Nasution Siapkan Modal Usaha bagi 50 Warga

Kamis, 3 September 2026 - 20:05 WIB

Wabup Simalungun Minta Pasar Lokal Dilibatkan dalam Rantai Pasok Program MBG

Berita Terbaru