ATAPKOTA.COM, MEDAN — Sumatera Utara (Sumut) menjadi tuan rumah Pertemuan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Ke-32 yang berlangsung pada 7–10 September 2026 di Medan. Selain memperkuat kerja sama kawasan, rangkaian pertemuan tersebut turut melahirkan gagasan pembentukan Forum Sumatera 10 sebagai wadah kolaborasi antarprovinsi di Pulau Sumatera.
Pertemuan yang diikuti delegasi dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand itu membahas berbagai peluang kerja sama, mulai dari konektivitas, perdagangan, investasi hingga pembangunan berkelanjutan. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, 10 gubernur se-Sumatera juga bertemu dalam forum yang digagas Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution.
Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari Menteri Ekonomi Malaysia Akmal Nasrullah. Ia menilai posisi geografis Sumatera yang berdekatan dengan Malaysia dan Thailand menjadi salah satu modal penting untuk memperluas pasar serta memperkuat konektivitas ekonomi kawasan.
“Ini kali pertama saya bertemu dengan beliau (Gubernur Bobby Nasution). Saya melihat potensi yang besar dan komitmen yang kuat. Paparan yang disampaikan juga menunjukkan banyak peluang ekonomi yang dimiliki Sumatera Utara,” ujar Akmal usai mengikuti rangkaian IMT-GT di Hotel JW Marriott Medan, Kamis (10/9/2026).
Akmal juga mencontohkan pola konektivitas logistik Malaysia melalui Pelabuhan Pulau Pinang yang terhubung dengan Perlis dan Thailand. Menurutnya, pola tersebut dapat menjadi salah satu referensi dalam mengembangkan jalur perdagangan dan konektivitas di kawasan IMT-GT.
Apresiasi terhadap inisiatif pertemuan antargubernur se-Sumatera juga disampaikan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian.
Menurut Tito, Forum Sumatera 10 dapat menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi antarprovinsi dalam mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki Pulau Sumatera.
Ia menilai kerja sama yang terkoordinasi antardaerah berpotensi memberikan dampak lebih luas, tidak hanya bagi masing-masing provinsi, tetapi juga terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
Pembentukan forum tersebut sekaligus memperlihatkan adanya upaya untuk mendorong kerja sama antardaerah agar tidak berjalan sendiri-sendiri, terutama dalam menghadapi kebutuhan investasi, konektivitas, perdagangan, pariwisata, dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam forum gubernur, Bobby Nasution memaparkan sejumlah potensi dan proyek strategis Sumatera Utara yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan melalui kerja sama kawasan.
Beberapa di antaranya adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei dengan luas sekitar 1.934 hektare, Toba Caldera Resort di kawasan Danau Toba dengan nilai investasi yang dipaparkan mencapai US$1,73 miliar, Kawasan Industri Strategis Sumatera Utara (KISS) seluas 2.445 hektare, serta pengembangan pusat ekonomi kreatif, MICE, dan kawasan smart city terpadu di Deli Serdang.
Pemaparan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi investasi Sumut kepada para delegasi dan daerah lain di kawasan Sumatera.
Namun, besarnya nilai investasi dan luas kawasan yang ditawarkan tentu perlu diikuti dengan informasi yang lebih terukur mengenai status proyek, realisasi investasi, tahapan pembangunan, sumber pendanaan, serta dampak ekonomi yang telah maupun akan dihasilkan.
Selain Sumatera Utara, sejumlah provinsi lain juga mempresentasikan proyek unggulan masing-masing.
Aceh, misalnya, menawarkan potensi rumah sakit wisata medis di Sabang. Riau memaparkan rencana dan potensi jalur Roll On-Roll Off (RORO) Dumai–Melaka dan Tanjung Buton.
Sementara itu, Kepulauan Riau membawa potensi Kawasan Perdagangan Bebas Batam–Bintan–Karimun. Dari Jambi, salah satu proyek yang dipromosikan adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Ujung Jabung dengan nilai investasi yang dipaparkan mencapai Rp87,87 triliun.
Beragam proyek tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang tersebar di Pulau Sumatera. Tantangannya adalah bagaimana berbagai proyek tersebut dapat diterjemahkan menjadi kerja sama konkret, investasi yang terealisasi, lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dalam forum tersebut, lima rekomendasi gubernur juga disampaikan melalui Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution.
Pertama, mendorong mobilisasi sumber daya di sepanjang koridor ekonomi IMT-GT dengan negara bagian dan provinsi sebagai penggerak utama guna mempercepat konektivitas serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Kedua, mengintegrasikan konsep hijau ke dalam kerangka kerja Chief Ministers and Governors Forum (CMGF) guna menyelaraskan konsep Green City dengan Sustainable Urban Development Framework (SUDF).
Ketiga, mempertahankan IMT-GT Green City Award sebagai program tahunan untuk memberikan apresiasi kepada kota-kota yang mendorong pembangunan hijau, inklusif, dan tangguh.
Keempat, memperkuat pelaksanaan SUDF melalui koordinasi nasional dan daerah serta platform Konferensi Tingkat Menteri Green City.
Kelima, mendorong pemanfaatan kolaborasi Asian Development Bank (ADB) dan ASEAN untuk memobilisasi dukungan teknis maupun finansial bagi proyek-proyek koridor ekonomi dan berbagai inisiatif Green City.
Rangkaian Pertemuan IMT-GT Ke-32 di Sumatera Utara akhirnya tidak hanya menjadi forum diplomasi ekonomi tiga negara, tetapi juga membuka ruang baru bagi penguatan kerja sama antarprovinsi di Pulau Sumatera.
Pembentukan Forum Sumatera 10 kini menjadi gagasan yang perlu diterjemahkan ke dalam agenda kerja dan program konkret agar tidak berhenti sebagai forum pertemuan. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada konsistensi koordinasi antardaerah, kesiapan proyek, kepastian regulasi, serta kemampuan pemerintah daerah menarik investasi yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
ATAPKOTA.COM membuka ruang konfirmasi dan informasi tambahan dari pemerintah daerah, kementerian/lembaga, maupun pihak terkait mengenai perkembangan dan realisasi proyek-proyek yang dipaparkan dalam forum tersebut.(AP/red)

































