ATAPKOTA.COM, KARO – Penertiban dugaan praktik pungutan liar (pungli) di jalur menuju kawasan wisata Pemandian Air Panas Sidebuk-Debuk mulai memberikan dampak nyata. Setelah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo melakukan sosialisasi dan penjagaan intensif, jumlah wisatawan yang berkunjung meningkat signifikan dalam dua hari terakhir.
Pantauan di kawasan wisata tersebut pada Minggu (28/6/2026) menunjukkan arus kendaraan yang keluar-masuk menuju Pemandian Air Panas Sidebuk-Debuk jauh lebih padat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Personel gabungan dari Satpol PP Provinsi Sumatera Utara dan Satpol PP Kabupaten Karo masih berjaga di sejumlah titik strategis untuk memastikan tidak ada lagi praktik pungutan di luar ketentuan.
Petugas Satpol PP Kabupaten Karo, Ebenezer Tarigan, mengatakan pengamanan telah dilakukan sejak dua hari terakhir. Sebanyak belasan personel disiagakan di empat titik, mulai dari persimpangan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum)–Jalan Jamin Ginting hingga pintu masuk kawasan wisata.
Menurut Ebenezer, keberadaan petugas bertujuan memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekaligus mencegah adanya dugaan praktik pungutan liar terhadap pengunjung.
“Kami berjaga untuk melakukan sosialisasi sekaligus menertibkan dugaan praktik pungutan liar di jalur menuju pemandian air panas. Sebelumnya, di lokasi ini ada oknum yang diduga meminta uang kepada pengunjung sebelum masuk ke kawasan wisata,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, pada malam pertama penertiban, Jumat (26/6/2026), petugas sempat menghadapi kendala karena sejumlah oknum yang diduga melakukan pungutan berpindah-pindah lokasi guna menghindari pengawasan.
“Awalnya kami sempat harus berpindah-pindah mengikuti pergerakan mereka. Karena itu jumlah pos penjagaan ditambah menjadi empat titik yang dijaga secara bergantian selama 24 jam. Kami juga rutin melakukan patroli di sepanjang jalur menuju lokasi wisata,” katanya.
Personel Satpol PP Provinsi Sumatera Utara, Rido, menyampaikan bahwa peningkatan jumlah kendaraan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas, terutama pada malam hari. Meski demikian, kehadiran petugas mendapat respons positif dari para wisatawan.
“Sejak penjagaan dilakukan, kendaraan yang masuk meningkat cukup drastis. Banyak pengunjung mengapresiasi langkah ini. Bahkan ada yang sempat berhenti karena mengira masih harus membayar di jalan, padahal praktik tersebut sudah ditertibkan,” jelas Rido.
Dampak positif penertiban juga dirasakan para pelaku usaha di kawasan wisata. Ima, pemilik kantin sekaligus penginapan di Sidebuk-Debuk, mengaku lonjakan wisatawan dalam dua hari terakhir membuat kawasan wisata kembali hidup.
Menurutnya, kepadatan pengunjung bahkan menyerupai suasana libur Tahun Baru.
“Biasanya saat libur sekolah memang ramai, tetapi kali ini jauh lebih padat. Pengunjung sangat banyak sehingga kami ikut merasakan peningkatan usaha. Harapan kami, praktik pungli benar-benar dihapuskan secara permanen,” katanya.
Hal serupa disampaikan Icky, pedagang makanan ringan di kawasan tersebut. Ia mengaku omzet penjualannya meningkat sejak jumlah wisatawan bertambah.
Sementara itu, sejumlah wisatawan mengaku kini lebih nyaman berkunjung karena tidak lagi menemui pungutan di luar retribusi resmi. Sebelumnya, mereka mengaku beberapa kali dimintai uang oleh oknum di beberapa titik sebelum tiba di lokasi wisata.
Rahmat Hidayat, warga Kota Medan, mengatakan dirinya sempat enggan kembali berkunjung karena pengalaman tersebut.
“Kami sudah hampir setahun tidak datang ke sini karena sebelumnya dua kali dimintai uang di perjalanan. Jumlahnya bahkan lebih besar dibanding harga tiket masuk ke pemandian,” ujarnya.
Pengunjung lainnya, Sandy, berharap pengawasan tetap dilakukan secara berkelanjutan agar kawasan wisata terbebas dari praktik pungutan liar. Ia juga mendukung rencana Gubernur Sumatera Utara membuka jalur akses alternatif menuju Sidebuk-Debuk guna meningkatkan kenyamanan wisatawan.
“Kalau kondisi seperti ini terus dipertahankan, tentu masyarakat akan semakin nyaman berwisata ke sini. Kami berharap penertiban tidak hanya sementara, tetapi dilakukan secara berkesinambungan,” katanya. (AP/red)

































