ATAPKOTA.COM, MEDAN – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) mendorong penguatan kerja sama antarprovinsi di Pulau Sumatera untuk mempercepat pertumbuhan kawasan dan meningkatkan daya saing regional. Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Provinsi Sumut, Sulaiman Harahap, menyampaikan hal itu saat mewakili Gubernur Sumut Bobby Nasution membuka Rapat Koordinasi Kerja Sama Antardaerah se-Sumatera di Hotel Santika Dyandra, Medan, Rabu (12/8/2026).
Sulaiman mengatakan potensi ekonomi Sumatera akan semakin besar apabila pemerintah daerah mampu menghubungkan berbagai kekuatan ekonomi di setiap wilayah. Ia menilai sentra produksi, kawasan industri, sumber energi, pelabuhan, destinasi wisata, perdagangan, dan pasar tidak dapat dipandang secara terpisah berdasarkan batas administratif provinsi.
“Kekuatan itu akan jauh lebih besar ketika kita mampu menghubungkannya. Sentra produksi, kawasan industri, sumber daya energi, pelabuhan, destinasi wisata, perdagangan dan pasar harus kita lihat sebagai bagian dari satu ekosistem pertumbuhan. Berbagai aktivitas tersebut tidak berjalan dalam batas administrasi provinsi,” ujar Sulaiman.
Menurut Sulaiman, rantai pasok dan investasi membutuhkan konektivitas antardaerah. Industri membutuhkan bahan baku, sedangkan sektor pariwisata membutuhkan jaringan destinasi yang saling terhubung.
Karena itu, ia mendorong pemerintah provinsi di Sumatera melihat pembangunan sebagai sebuah ekosistem kawasan, bukan hanya berdasarkan kepentingan masing-masing wilayah.
“Hal ini sejalan dengan karakter isu pembangunan Sumatera yang lintas wilayah, mulai dari ekonomi, konektivitas, perdagangan, investasi, komoditas unggulan, digitalisasi, lingkungan, hingga sumber daya manusia,” katanya.
Sulaiman menyebut Sumatera memiliki posisi penting dalam perekonomian nasional. Berdasarkan data yang dipaparkannya, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera pada 2025 mencapai sekitar Rp5.251 triliun atau 22,05 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Pada periode tersebut, pertumbuhan ekonomi Sumatera tercatat 4,81 persen secara year on year (yoy). Sementara pada semester I 2026, ekonomi Sumatera tumbuh 5,10 persen secara cumulative to cumulative (c-to-c), dengan nilai PDRB sekitar Rp2.812,6 triliun atau setara 22,08 persen terhadap perekonomian nasional.
Angka tersebut, menurut Sulaiman, menunjukkan besarnya peran Sumatera dalam perekonomian Indonesia sekaligus peluang yang dapat diperkuat melalui kerja sama lintas provinsi.
Sulaiman menjelaskan Rakor Kerja Sama Antardaerah se-Sumatera tersebut juga menindaklanjuti Konsultasi Regional PDRB pada Oktober 2025 yang menghasilkan Mufakat Tanah Deli.
Komitmen tersebut diarahkan untuk memperkuat kerja sama antarprovinsi dengan mengoptimalkan potensi dan keunggulan masing-masing daerah.
Selain itu, Sumut juga disebut mendapat penugasan sebagai koordinator daerah dalam kerangka kerja sama Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.
Sulaiman berharap rakor tersebut menghasilkan langkah konkret, bukan berhenti pada kesepakatan normatif.
“Saya berharap pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk membangun forum koordinasi antarpemerintah daerah se-Sumatera, kesepakatan sektor dan isu prioritas yang membutuhkan kolaborasi lintas provinsi, serta tersusunnya proyek-proyek prioritas regional yang dapat kita kawal bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah Sumut, Dikky Anugerah, berharap pemerintah daerah dapat menjadikan potensi masing-masing provinsi sebagai dasar dalam menentukan sektor kerja sama.
Menurutnya, kolaborasi antardaerah harus berkembang dari sekadar komitmen menjadi mekanisme kerja yang menghasilkan program dan proyek nyata untuk mendorong pertumbuhan kawasan secara berkelanjutan.(AP/red)

































