ATAPKOTA.COM, PEMATANGSIANTAR – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dipasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mekar Nauli di Kecamatan Siantar Marihat, Kota Pematangsiantar, menuai sorotan. Penelusuran wartawan menemukan perbedaan antara keterangan pihak sekolah dan kondisi makanan yang diterima siswa. Temuan itu muncul ketika wartawan melakukan peninjauan lapangan di dua sekolah penerima program tersebut pada Kamis (12 Maret 2026).
SPPG Mekar Nauli yang beralamat di Jalan Mangga Ujung Nomor 158 telah beroperasi sekitar dua bulan terakhir. Unit layanan ini memasok makanan bagi siswa SD Budi Mulia dan SMP Budi Mulia yang berada di Jalan Melanton Siregar Nomor 161.
Di SMP Budi Mulia, seorang penanggung jawab sekolah yang memperkenalkan diri sebagai Ibu Tinambunan menilai kualitas makanan yang diterima siswa cukup baik.
“Menu yang diberikan kepada siswa menurut kami sudah bagus. Biasanya ada ikan nila atau daging ayam, ditambah buah setiap hari,” kata Tinambunan saat ditemui wartawan.
Ketika ditanya mengenai kelayakan nilai paket makanan yang disebut sekitar Rp10 ribu per porsi atau ompreng, ia menilai nominal tersebut masih wajar.
“Kalau dibandingkan dengan nasi bungkus di warung yang sekitar Rp10 ribu, menurut saya masih layak,” ujarnya.
Namun, ketika wartawan meminta izin melihat langsung makanan yang dibagikan kepada siswa, menu yang ditemukan berbeda dari penjelasan sebelumnya. Dalam satu paket makanan terlihat nasi putih, sebutir telur dengan sambal, sepotong tahu, sayur buncis dan wortel, serta satu irisan kecil buah jambu biji.
Perbedaan antara keterangan dan kondisi makanan tersebut membuat suasana percakapan berubah. Ekspresi Tinambunan tampak berbeda ketika wartawan kembali menanyakan kesesuaian menu dengan pernyataan sebelumnya.
Dalam kesempatan yang sama, Tinambunan juga menjelaskan mekanisme pembagian makanan ketika sekolah libur.
“Kalau hari libur biasanya tidak dibagikan, karena banyak siswa yang berasal dari luar daerah dan pulang ke kampung. Biasanya pada hari Jumat ada tambahan seperti roti, buah, dan susu,” katanya.
Keterangan itu tidak sepenuhnya sejalan dengan pengakuan sejumlah siswa SMP Budi Mulia yang ditemui wartawan saat pulang sekolah. Para siswa meminta identitas mereka tidak dipublikasikan untuk menjaga kenyamanan dan privasi.
“Kalau libur tidak pernah dapat. Kalau hari Jumat paling kadang ditambah roti satu bungkus sama buah seperti pisang atau jeruk,” ujar salah seorang siswa.
Untuk memastikan informasi tersebut, wartawan kemudian mendatangi lokasi SPPG Mekar Nauli sebagai pemasok makanan bagi kedua sekolah tersebut.
Di lokasi itu, wartawan disambut sejumlah karyawan serta seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai pemilik SPPG bermarga Siallagan, didampingi asisten lapangan bernama Damanik.
Menanggapi pertanyaan mengenai pembagian makanan saat hari libur sekolah, pihak SPPG menyatakan mekanisme distribusi bergantung pada koordinasi dengan pihak sekolah sebagai penerima program.
“Kami tetap berkoordinasi dengan pihak sekolah mengenai pembagian makanan. Teknisnya tergantung pada koordinator di masing-masing sekolah,” kata Siallagan. (Valtin Silitonga/ Martuadin Saragih/red)



































