ATAPKOTA.COM, ACEH TIMUR – Wakil Bupati Aceh Timur T. Zainal Abidin, S.Pd.I., M.H. kembali menunjukkan keteladanan dan kedekatannya dengan rakyat. Dalam satu hari, Senin (27/10/2025), ia menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di tiga lokasi berbeda di wilayah Aceh Timur.
Rangkaian kunjungan dimulai di Desa Blang Paoh Dua, Kecamatan Julok, tempat Wabup menyerahkan santunan simbolis kepada anak yatim, didampingi unsur Muspika Kecamatan Julok. Kehadirannya disambut hangat warga yang antusias mengikuti acara tersebut.
Dalam sambutannya, Wabup menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi bukan hanya seremonial, melainkan sarana memperdalam kecintaan kepada Rasulullah SAW serta meneladani akhlaknya.
“Maulid Nabi adalah pengingat agar kita meneladani kasih sayang, kejujuran, dan kepedulian Rasulullah terhadap sesama,” ujar Wabup.
Usai kegiatan di Julok, Wabup bersama Anggota DPRA Fraksi Partai Aceh (PA) M. Yusuf (Pang Ucok) dan Muspika Kecamatan Pantee Bidari melanjutkan kunjungan ke Dayah Assasul Huda, Desa Meunasah Tunong. Di sana, ia disambut meriah oleh ulama, santri, dan masyarakat.
Dalam arahannya, Wabup mengajak masyarakat memperkuat ukhuwah islamiyah serta memperkokoh peran dayah dan pesantren sebagai benteng moral dan pusat pendidikan Islam di Aceh Timur.
“Dayah bukan hanya tempat belajar agama, tetapi benteng moral bangsa,” tegasnya.
Tak berhenti di situ, pada sore hari Wabup juga menghadiri Maulid Nabi di Balai Pengajian Darul Mu’arrif, Desa Teupin Raya, Kecamatan Julok. Ia didampingi Anggota DPRA Komisi VII M. Yusuf Pang Ucok, S.H., bersama unsur Muspika setempat. Suasana religius dan penuh kekeluargaan mewarnai seluruh rangkaian kegiatan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Wabup mengajak seluruh warga menjadikan Maulid Nabi sebagai momen introspeksi dan persatuan umat.
“Mari kita jadikan Maulid Nabi sebagai sarana memperkuat keimanan, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat gotong royong membangun Aceh Timur,” tutupnya.
Kehadiran Wabup di tiga lokasi berbeda dalam satu hari menuai apresiasi luas dari masyarakat. Warga menilai kehadirannya bukan sekadar bentuk penghormatan terhadap tradisi Islam di Aceh, tetapi juga bukti nyata kepemimpinan yang rendah hati, religius, dan dekat dengan rakyat. (AK1)

































