ATAPKOTA.COM, MEDAN – Penyelidikan penyebab ledakan yang menghancurkan sebuah rumah di Kompleks Grand Polonia, Kota Medan, terus berlanjut. Hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Sumatera Utara menyimpulkan bahwa ledakan dipicu oleh akumulasi gas metana (CH₄) yang terperangkap di dalam bangunan dan kemudian tersulut. Temuan tersebut disampaikan aparat kepolisian beberapa hari setelah peristiwa ledakan sebagai bagian dari perkembangan proses penyelidikan.
Meski demikian, penyidik menegaskan bahwa penyebab pasti kebocoran gas masih belum dapat dipastikan. Hingga kini, tim gabungan masih melakukan leak test atau uji kebocoran pada jaringan pipa guna mengidentifikasi titik sumber kebocoran yang diduga menyebabkan akumulasi gas di lokasi kejadian.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sumatera Utara Kombes Pol. Ferry Walintukan mengatakan hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik menunjukkan adanya kandungan gas metana di lokasi ledakan.
“Hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik menunjukkan adanya gas metana (CH₄). Gas tersebut terakumulasi di dalam ruangan dan kemudian terjadi penyulutan yang mengakibatkan ledakan,” ujar Ferry.
Menurut Ferry, hasil pemeriksaan ilmiah tersebut menjadi dasar bagi penyidik untuk memperdalam penyelidikan. Namun, hingga saat ini polisi belum dapat memastikan dari bagian mana gas tersebut berasal karena proses pengujian terhadap jaringan pipa masih berlangsung.
“Kami belum bisa memastikan titik kebocorannya. Tim Labfor masih melakukan leak test terhadap jaringan pipa agar diketahui secara ilmiah lokasi kebocoran yang menyebabkan akumulasi gas tersebut,” katanya.
Sementara itu, Kepala Subbidang Fisika dan Komputer (Kasubbid Fiskom) Bidang Labfor Polda Sumut AKBP Roy Tenno Siburian menjelaskan bahwa proses pencarian sumber kebocoran memerlukan pemeriksaan secara bertahap mengingat instalasi pipa berada di dalam struktur bangunan.
“Pipa instalasi berada di dalam struktur bangunan sehingga pemeriksaannya harus dilakukan secara bertahap. Setelah titik kebocoran ditemukan, baru dapat dipastikan bagaimana gas itu terakumulasi hingga memicu ledakan,” jelas Roy.
Di sisi lain, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) menyatakan masih menghentikan sementara penyaluran gas kepada seluruh pelanggan di kawasan Grand Polonia sebagai langkah pengamanan selama proses investigasi berlangsung.
General Manager Regional I PGN Andi Sangga mengatakan penghentian distribusi gas dilakukan untuk menjaga keselamatan masyarakat sekaligus mendukung proses penyelidikan yang dilakukan bersama kepolisian.
“Demi alasan keselamatan, kami masih menutup aliran gas di Perumahan Grand Polonia. Kami juga melakukan simulasi pengaliran menggunakan CNG agar bersama kepolisian dapat mencari titik kebocoran secara akurat,” ujar Andi.
Ia menjelaskan, PGN menggunakan Compressed Natural Gas (CNG) dalam tabung sebagai media simulasi pengaliran ke jaringan pipa. Langkah tersebut bertujuan membantu penyidik mengidentifikasi titik kebocoran tanpa mengaktifkan kembali distribusi gas ke seluruh kawasan.
Meski demikian, PGN menegaskan belum dapat menyimpulkan bahwa jaringan gas perusahaan menjadi penyebab utama ledakan. Menurut Andi, kesimpulan tersebut sepenuhnya menunggu hasil investigasi resmi yang dilakukan aparat penegak hukum.
“Kami mendukung sepenuhnya proses investigasi bersama aparat kepolisian. Untuk penyebab pasti kejadian ini, kami menunggu hasil investigasi resmi,” katanya.
Polda Sumatera Utara menegaskan seluruh rangkaian penyelidikan dilakukan secara objektif dan berbasis pembuktian ilmiah. Polisi menyatakan hasil akhir investigasi, termasuk lokasi sumber kebocoran, penyebab penyulutan, serta ada atau tidaknya unsur kelalaian, akan disampaikan kepada publik setelah seluruh pemeriksaan teknis selesai dilakukan. (AP/red)

































