ATAPKOTA.COM, TAPTENG – Banjir dan tanah longsor yang melanda Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, pada 16 Februari 2026 menyisakan kerusakan infrastruktur dan kekhawatiran warga terhadap potensi banjir susulan. Dalam kunjungan lapangan pada Kamis, 19 Februari 2026, Kepala Kepolisian Resor Tapanuli Tengah, Ajun Komisaris Besar Polisi Muhammad Alan Haikel, S.K.M., S.I.K., M.I.K., meninjau langsung lokasi terdampak sekaligus menyerahkan bantuan sosial kepada warga.
Di sejumlah titik, personel Bhabinkamtibmas Polsek Pandan bersama Babinsa dan masyarakat terlihat bergotong royong membersihkan aliran sungai dari material lumpur dan kayu. Upaya swadaya tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko luapan air apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Dalam dialog dengan warga, seorang perempuan bermarga Situmeang menyampaikan kekhawatiran atas pendangkalan sungai yang kembali terjadi setelah sebelumnya dinormalisasi pascabanjir pada November 2025. Ia berharap pemerintah segera menurunkan alat berat untuk melakukan pengerukan ulang.
“Jika hujan turun deras, kami khawatir air meluap lagi ke permukiman,” ujarnya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Kapolres menyatakan akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah dan instansi terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), guna mendorong percepatan normalisasi sungai.
“Kami akan menyampaikan aspirasi warga agar segera ditindaklanjuti melalui langkah teknis yang diperlukan,” kata Alan.
Camat Sitahuis, Marihot Simbolon, S.Sos., mengapresiasi kehadiran jajaran kepolisian di tengah masyarakat terdampak. Menurutnya, bantuan paket sembako yang disalurkan dapat meringankan beban warga yang sedang memulihkan kondisi pascabencana.
Bantuan yang diberikan berupa beras, mi instan, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya. Hingga kunjungan berlangsung, belum ada laporan resmi terkait jumlah total kerusakan rumah maupun estimasi kerugian material akibat banjir dan longsor tersebut.
Kondisi cuaca yang masih fluktuatif menjadi perhatian warga dan aparat setempat. Upaya mitigasi lanjutan dinilai krusial untuk mencegah risiko serupa berulang di kawasan rawan banjir di Sitahuis. (Hum/red)
































