ATAPKOTA.COM, SIMALUNGUN – Memasuki hari kedua Ramadan 1447 Hijriah, Pemerintah Kabupaten Simalungun menggelar Gerakan Pangan Murah di kawasan Ruang Terbuka Publik (RTP) Pantai Bebas Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada Jumat, 20 Februari 2026. Program ini langsung menyedot perhatian warga Kota Wisata Parapat yang datang sejak pagi untuk mendapatkan bahan pokok bersubsidi.
Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dishanpangkan) Kabupaten Simalungun menginisiasi kegiatan tersebut sebagai langkah menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga bahan pokok selama Ramadan sekaligus mengendalikan inflasi daerah.
Warga memadati lokasi kegiatan. Antrean mengular di sejumlah stan penjualan. Sebagian warga bahkan telah memesan bahan pokok sehari sebelumnya untuk memastikan ketersediaan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Simalungun, Pardomuan Sijabat, mengatakan pemerintah daerah menyiapkan sejumlah komoditas dengan harga di bawah pasar. Beras SPHP dijual Rp58.000 per kemasan, gula pasir Rp17.500 per kilogram, tepung terigu Rp9.000 per kilogram, minyak goreng Minyakita Rp15.500 per liter, minyak goreng merek Fortune Rp15.000 per liter, serta telur ayam Rp50.000 per papan.
“Program ini kami jalankan untuk memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap tersedia dan terjangkau menjelang hari besar keagamaan,” ujar Pardomuan.
Ia menambahkan, pemerintah daerah akan terus memantau pergerakan harga dan mempertimbangkan pelaksanaan kegiatan serupa di kecamatan lain yang dinilai membutuhkan intervensi pasar.
Camat Girsang Sipangan Bolon, Viktor Sijabat, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Simalungun atas pelaksanaan program tersebut. Menurut dia, gerakan pangan murah menjadi respons konkret pemerintah terhadap tekanan harga yang dirasakan masyarakat.
Ia juga mengimbau warga memanfaatkan program tersebut selama persediaan masih tersedia dan kegiatan berlangsung hingga sore hari.
Salah seorang warga Nagori Sibaganding, Boru Sinaga, mengaku terbantu dengan harga yang lebih rendah dibandingkan pasar tradisional. “Harganya lebih murah. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa rutin dilakukan,” katanya.
Program ini menjadi salah satu instrumen intervensi pasar yang kerap dilakukan pemerintah daerah saat momentum keagamaan, ketika permintaan bahan pokok meningkat dan berpotensi mendorong lonjakan harga. (AP)

































