ATAPKOTA.COM, MEDAN – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mendorong pengembangan komoditas unggulan daerah agar tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi mampu menghasilkan nilai tambah dan membuka pasar yang lebih luas.
Menurut Bobby, strategi tersebut perlu berjalan melalui pengembangan produk turunan, stabilitas pasokan, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sebagai produsen.
Bobby menyampaikan hal itu saat menerima audiensi Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumut Prayatno Ginting beserta jajaran di Ruang Kerja Gubernur, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Nomor 30, Medan, pada Senin (7/9/2026).
Bobby menilai Sumut memiliki sejumlah komoditas pangan dan pertanian yang berpotensi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.
Namun, menurut dia, peningkatan produksi saja belum cukup untuk memberikan dampak ekonomi yang optimal kepada masyarakat. Pemerintah perlu mendorong pengolahan komoditas menjadi produk turunan sekaligus memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses pasar.
“Jadi, pengembangan komoditas harus diarahkan agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Sehingga memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Begitu juga dengan pemanfaatan teknologi yang ada,” ujar Bobby.
Ia mencontohkan potensi komoditas di Kepulauan Nias. Menurut Bobby, persoalan yang dihadapi bukan semata-mata ketiadaan pasar, melainkan kemampuan produksi yang belum mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam jumlah tertentu.
“Banyak yang berpotensi, seperti di Kepulauan Nias. Di sana belum ketemu pasar yang sesuai. Namun masalahnya bukan pasarnya, tetapi jumlah produksi yang belum memenuhi kebutuhan pasar,” katanya.
Bobby mengatakan pemerintah perlu memastikan produksi suatu komoditas memiliki kapasitas dan kontinuitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Karena itu, ia mendorong adanya intervensi pemerintah setelah komoditas dinilai memiliki pasar yang jelas. Intervensi tersebut, antara lain, dapat dilakukan melalui kebijakan, program, pengembangan produk, hingga penetapan target produksi.
“Setelah komoditas itu sesuai kebutuhan pasar, pemerintah dan pihak terkait pun perlu mengintervensi. Jadi harus ada kolaborasi bersama, seperti penetapan target tahunan komoditas apa yang perlu kita capai,” jelasnya.
Menurut Bobby, masyarakat tetap menjadi pelaku utama produksi, sedangkan pemerintah berperan menyiapkan kebijakan dan program yang mendukung ekosistem tersebut.
Ia menegaskan, program dan anggaran pemerintah semestinya memiliki keluaran yang dapat dirasakan masyarakat, termasuk dalam penelitian dan pengembangan komoditas yang memiliki peluang ekspor.
“Makanya program dan anggaran pemerintah harus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Karenanya kami juga ingin menjalin kerja sama untuk meneliti dan mengembangkan komoditas yang berpotensi untuk bisa diekspor,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumut Prayatno Ginting menyambut baik rencana pemerintah mengembangkan komoditas baru yang memiliki peluang pasar ekspor.
Ia menyebut lidi sawit sebagai salah satu komoditas yang dinilainya memiliki potensi ekonomi dan ekspor, tetapi belum banyak terpantau dalam pengembangan komoditas ekspor Sumut.
Selain lidi sawit, Ginting menyebut sejumlah komoditas asal Sumut, seperti kepiting, udang, dan sarang burung walet, yang menurutnya turut memberikan kontribusi terhadap aktivitas ekspor.
Ia menyampaikan nilai ekspor komoditas tersebut mencapai Rp8,1 triliun. Selain itu, pemerintah dan pihak terkait juga tengah menyiapkan rencana pengiriman produk durian ke pasar Tiongkok.
Namun, pengembangan ekspor juga menghadapi persoalan infrastruktur pendukung, khususnya fasilitas laboratorium untuk pemeriksaan sampel hama dan penyakit.
“Saat ini kendala kita, untuk sampel hama dan penyakit masih harus dikirim ke laboratorium di Jakarta dan Surabaya. Biayanya cukup besar. Kami berharap (laboratorium) yang ada di sini bisa dibuka kembali,” kata Ginting.
Usulan tersebut mendapat respons positif dari Bobby Nasution. Gubernur menyatakan akan melihat kondisi laboratorium tersebut sebagai bagian dari upaya mendukung pengembangan komoditas dan aktivitas ekspor Sumut.
Dengan demikian, pengembangan komoditas Sumut tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi. Ketersediaan pasar, kontinuitas pasokan, teknologi, produk turunan, fasilitas pemeriksaan, serta koordinasi antarinstansi menjadi bagian penting yang perlu disiapkan agar potensi komoditas benar-benar menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.(AP/red)

































