Bukan Pidato, Dua Puisi Alias Wello Justru Curi Perhatian di Rakernas III PJS

REDAKSI ATAP KOTA.COM

- Redaksi

Rabu, 4 November 2026 - 21:30 WIB

4026 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 penampilan Ketua Dewan Penyantun dan Pembina DPP PJS, Alias Wello, yang membawakan dua puisi karya penyair besar Indonesia. Pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Pro Jurnalismedia Siber (PJS) di Asrama Haji Batam, Rabu (4/11/2026)

penampilan Ketua Dewan Penyantun dan Pembina DPP PJS, Alias Wello, yang membawakan dua puisi karya penyair besar Indonesia. Pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Pro Jurnalismedia Siber (PJS) di Asrama Haji Batam, Rabu (4/11/2026)

ATAPKOTA.COM, BATAM – Agenda Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Pro Jurnalismedia Siber (PJS) di Asrama Haji Batam, Rabu (4/11/2026), menghadirkan suasana berbeda. Di tengah pembahasan organisasi dan konsolidasi program kerja, perhatian peserta justru tertuju pada penampilan Ketua Dewan Penyantun dan Pembina DPP PJS, Alias Wello, yang membawakan dua puisi karya penyair besar Indonesia.

Mantan Bupati Lingga yang akrab disapa AWe tersebut membacakan puisi Suara Terluka karya WS Rendra dan Amuk Kapak karya Sutardji Calzoum Bachri.

Dengan penghayatan dan penguasaan intonasi, AWe menyampaikan kedua puisi tersebut tanpa terpaku pada teks. Permainan tekanan suara, ekspresi, serta gerak tubuh membuat penampilannya menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian dalam rangkaian Rakernas.

Penampilan itu sekaligus menghadirkan warna berbeda di tengah kegiatan yang umumnya diisi pengarahan, pembahasan program, dan agenda organisasi.

AWe hadir bersama Prof. Nelson Pomalingo dalam Rakernas III PJS. Ia kemudian diminta membacakan puisi oleh Ketua Umum DPP PJS, Mahmud Marhaba, setelah menyampaikan pengarahan kepada peserta.

Mahmud menyebut AWe memiliki kemampuan dalam membawakan puisi, termasuk menghafal dan menyampaikan karya sastra tanpa bantuan teks.

“Pak Alias Wello ini adalah seniman yang dikenal cukup piawai membaca puisi. Bahkan, bisa berpuisi tanpa teks. Karena itu, kita mohon kesediaan beliau membacakan puisi terbaiknya,” ujar Mahmud.

Permintaan tersebut disambut AWe dengan membawakan dua karya sastra yang memiliki karakter dan kekuatan ekspresi berbeda. Ia tampil percaya diri, memainkan irama pembacaan, serta memberikan penekanan pada bagian-bagian tertentu untuk memperkuat pesan puisi.

Penampilan itu mendapat respons positif dari peserta Rakernas. Mahmud bahkan mengaku ikut terbawa suasana ketika mendengarkan pembacaan puisi tersebut.

“Penjiwaannya luar biasa. Saya merinding mendengarnya. Peserta yang mulai mengantuk langsung segar,” ungkap Mahmud.

Bagi AWe, puisi bukan sekadar rangkaian kata yang disampaikan melalui suara. Karya sastra merupakan medium untuk menyuarakan perasaan, kegelisahan, dan berbagai pesan kehidupan melalui kekuatan bahasa.

Dua puisi yang dibawakannya menjadi pengingat bahwa kata-kata memiliki kekuatan dalam membangun kesadaran, menyampaikan kritik, serta menggugah pemikiran.

Menurut AWe, dunia jurnalistik dan kesusastraan memiliki titik temu pada kekuatan kata-kata, meskipun keduanya menggunakan pendekatan berbeda.

“Bedanya, jurnalis menyampaikan kenyataan melalui berita, sementara penyair merawat kenyataan melalui rasa dan imajinasi. Keduanya membuktikan bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa,” kata AWe.

Penampilan tersebut menjadi salah satu momen berkesan dalam Rakernas III PJS di Batam. Di tengah kesibukan membahas arah dan masa depan organisasi, kehadiran seni memberikan ruang refleksi bahwa profesi jurnalistik tidak hanya membutuhkan ketajaman menyampaikan fakta, tetapi juga kepekaan dalam memahami kehidupan manusia.

Pada akhirnya, baik jurnalis maupun penyair memiliki tanggung jawab terhadap kekuatan kata-kata. Jurnalis dituntut menjaga kebenaran fakta, sementara penyair menghadirkan pengalaman dan kegelisahan manusia melalui karya sastra.(AP/red)

Berita Terkait

Dugaan Kayu Hutan Hatonduhan Masuk Pematangsiantar, Sejumlah Sawmill Diminta Buka Dokumen
Wesly Silalahi Terima Pokok Pikiran DPRD Pematangsiantar, Prioritas dan Kemampuan Anggaran Jadi Pertimbangan
Perambahan Hutan Hatonduhan, Kepala KPH Pematangsiantar Janji Turunkan Petugas Ke Lokasi
Perambahan Hutan Hatonduhan Disorot DPRD Sumut, Komisi A Minta Laporan Resmi KPH
Kasat Lantas Polres Simalungun Gelar Pelatihan Safety Riding di PT Aice Sei Mangkei, Laka Lantas Turun 30 Persen Selama Operasi Patuh Toba 2026
BPKP Dorong Transparansi Dana Desa, 200 Camat dan Pangulu Ikuti Workshop di Simalungun
Asahan Raih Nilai 97,30 Kategori Istimewa, KPK Temukan 11 Pejabat Belum Lapor LHKPN
Rakernas III PJS Tetapkan Tujuh Rekomendasi, Targetkan UKW di 26 Provinsi

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 22:21 WIB

Dugaan Kayu Hutan Hatonduhan Masuk Pematangsiantar, Sejumlah Sawmill Diminta Buka Dokumen

Kamis, 5 November 2026 - 21:22 WIB

Wesly Silalahi Terima Pokok Pikiran DPRD Pematangsiantar, Prioritas dan Kemampuan Anggaran Jadi Pertimbangan

Kamis, 5 November 2026 - 21:11 WIB

Perambahan Hutan Hatonduhan, Kepala KPH Pematangsiantar Janji Turunkan Petugas Ke Lokasi

Kamis, 5 November 2026 - 20:04 WIB

Perambahan Hutan Hatonduhan Disorot DPRD Sumut, Komisi A Minta Laporan Resmi KPH

Kamis, 5 November 2026 - 18:30 WIB

BPKP Dorong Transparansi Dana Desa, 200 Camat dan Pangulu Ikuti Workshop di Simalungun

Kamis, 5 November 2026 - 17:40 WIB

Asahan Raih Nilai 97,30 Kategori Istimewa, KPK Temukan 11 Pejabat Belum Lapor LHKPN

Kamis, 5 November 2026 - 17:25 WIB

Rakernas III PJS Tetapkan Tujuh Rekomendasi, Targetkan UKW di 26 Provinsi

Kamis, 5 November 2026 - 17:15 WIB

KPK Beri Nilai 97,30 Persen kepada Pemkab Asahan, Sejumlah Catatan Perbaikan Tetap Disampaikan

Berita Terbaru